- Memang
seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta
semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan,
duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang
dakwah. Tentang umat yang kau cintai.
DAN Setiap Sesuatu yang kita Cinta Pasti Butuh Perjuangan yang Tidak Mudah,
Dakwah Itu Adalah Hidup Mati Kita..
Maka Dari itu Perlu Kesungguhan Hati Untuk Mempertahankannya...
Dakwah Itu Adalah Tantangan..
Maka Jangan Berfikir Kau Akan Menemui Jalan Kemudahan Darinya,
Dakwah Itu adalah Sebuah Harapan..
Maka Jangan Pernah Berhenti Mengejarnya!
Dakwah Itu Takkan Memberi Kita Harta,Tahta, Pangkat, Wanita yang Cantik, Laki2 yang Tampan Maka Jangan Harapkan Semua Itu Dari Dakwah Yg Kau Tempuh,Tapi Berharaplah Keridhoan ALLAH,
Dakwah Itu Adalah Itu Menerima..
Maka Kita Harus Siap Menerima Semua Tantangan, Cacian, Hinaan Dan Bahkan Tuduhan Dari Orang Yang Tak Menyukai Dakwah Kita, Sebab Itu Jangan Bersedih Dengan Semua Itu.
Dakwah Itu Adalah Pilihan..
Maka Jadikanlah Pilihanmu Itu Pilihan Yang takkan Pernah Kau Sesali,
Terakhir Dakwah Adalah Kebahagiaan Apabila Kita Ikhlas Menjalaninya, Apabila Dakwah Tidak Bertujuan Mencari Kenikmatan Dunia,Tapi Rasa Cinta ALLAH...
Semoga Kau Bahagia Dalam Dunia Dakwah Yang Kau pilih.
Lagi-lagi
memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang
belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh
yang luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa
berlari.
Seperti itu
pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga.
Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.
Sebagaimana
tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum
muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa
diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.
Sulit
membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar
itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian
meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang
tenang.
Dan di etalase
akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat
tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya
membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik?
Akhirnya
diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah;
luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang
bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya
tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak
menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan
kefuturan.
Tidak… Justru
kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang
hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung
lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.
Justru karena
rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena
rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya
menjadi adaptasi.
Kalau iman dan
godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus
mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik
iman. Lalu terus berkobar dalam dada.
Begitu pula
rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat
untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang
begitu cantik.
Begitupun Umar.
Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi
mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya
“ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam
tonik bagi iman..
Karena itu kamu
tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak
kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga
begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak
setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.
Maka sekalinya
hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa
menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para
mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha
Pengasih lagi maha Penyayang… “
Maka satu lagi
seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah.
Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus
berlari…
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(alm. Ust Rahmat Abdullah)
================================================
Dakwah Itu Adalah Cinta....DAN Setiap Sesuatu yang kita Cinta Pasti Butuh Perjuangan yang Tidak Mudah,
Dakwah Itu Adalah Hidup Mati Kita..
Maka Dari itu Perlu Kesungguhan Hati Untuk Mempertahankannya...
Dakwah Itu Adalah Tantangan..
Maka Jangan Berfikir Kau Akan Menemui Jalan Kemudahan Darinya,
Dakwah Itu adalah Sebuah Harapan..
Maka Jangan Pernah Berhenti Mengejarnya!
Dakwah Itu Takkan Memberi Kita Harta,Tahta, Pangkat, Wanita yang Cantik, Laki2 yang Tampan Maka Jangan Harapkan Semua Itu Dari Dakwah Yg Kau Tempuh,Tapi Berharaplah Keridhoan ALLAH,
Dakwah Itu Adalah Itu Menerima..
Maka Kita Harus Siap Menerima Semua Tantangan, Cacian, Hinaan Dan Bahkan Tuduhan Dari Orang Yang Tak Menyukai Dakwah Kita, Sebab Itu Jangan Bersedih Dengan Semua Itu.
Dakwah Itu Adalah Pilihan..
Maka Jadikanlah Pilihanmu Itu Pilihan Yang takkan Pernah Kau Sesali,
Terakhir Dakwah Adalah Kebahagiaan Apabila Kita Ikhlas Menjalaninya, Apabila Dakwah Tidak Bertujuan Mencari Kenikmatan Dunia,Tapi Rasa Cinta ALLAH...
Semoga Kau Bahagia Dalam Dunia Dakwah Yang Kau pilih.
No comments:
Post a Comment